Tsui no Hito
OngoingSub sub100

Tsui no Hito

Orang di Pengujung Hidup

66 views 2026 TBSTotal 10 episode
1 (4 rating)
❤️ Premium Trakteer

Bagikan ke:

Sinopsis

Berdasarkan manga dengan judul yang sama karya Shimizu Shun, cerita dimulai ketika Shie Sousuke, seorang pengurus jenazah veteran dengan penampilan yang tampak kasar, bertemu dengan Soyogi Kotaro, seorang karyawan perusahaan elit yang telah kehilangan jati dirinya setelah terlalu larut dalam pekerjaan. Pertemuan mereka dipicu oleh kematian mendadak ibu Soyogi. Saat Shie dan Soyogi – pasangan mentor dan murid yang tidak terduga dan sangat berbeda – menghadapi setiap kematian dan keluarga yang berduka dengan tulus, serial ini berkembang menjadi refleksi tentang keluarga, kesepian, penuaan, kehilangan, dan pembaharuan dalam masyarakat modern.

Pemeran

Daftar Episode (6)

Ep 1
Ep 2
Ep 3
Ep 4
Ep 5
Ep 6

Berita

Komentar

Memuat komentar...

Sinopsis Tiap Episode

Episode 1

Episode 1

Tayang di Jepang: 13 Januari 2026 Sosuke Shie adalah seorang pengurus pemakaman berpengalaman dengan penampilan nyentrik dan cara bicara yang tajam. Ketika menjalani pemeriksaan di rumah sakit, ia mendapat kabar bahwa dirinya mengidap kanker stadium empat dan diperkirakan hanya memiliki waktu enam bulan untuk hidup. Namun, Shie menerima kenyataan tersebut dengan sikap tenang dan tetap menjalankan pekerjaannya. Di rumah sakit yang sama, Kotaro Soyogi bekerja sebagai tenaga penjualan perusahaan alat kesehatan. Setiap hari ia berusaha mengambil hati para dokter agar produk perusahaannya digunakan. Tekanan pekerjaan dan target penjualan membuat Kotaro kelelahan serta kehilangan arah hidup. Saat beristirahat di bangku rumah sakit, Kotaro bertemu seorang pria berpakaian olahraga yang sedang merokok. Kotaro menegurnya, tetapi pria itu justru membalas dengan kata-kata menusuk, mengatakan bahwa wajah Kotaro terlihat lebih tidak bersemangat daripada orang yang baru menerima vonis sisa hidup. Ucapan tersebut membuat Kotaro tersinggung, tetapi juga menyadarkannya bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengejar pengakuan orang lain. Pada malam yang sama, Kotaro menerima kabar mengejutkan bahwa ibunya meninggal dunia akibat kanker. Belum sempat menerima kehilangan tersebut, Kotaro harus mengurus pemakaman sang ibu. Rumah sakit kemudian memperkenalkan seorang pengurus pemakaman kepadanya. Kotaro terkejut ketika mengetahui pengurus pemakaman itu adalah Sosuke Shie—pria yang sebelumnya menegurnya dengan kata-kata tajam. Meski bersikap kasar dan tidak seperti pengurus pemakaman pada umumnya, Shie ternyata sangat memahami perasaan keluarga yang ditinggalkan. Ia berusaha mencari tahu keinginan terakhir ibu Kotaro dan mempersiapkan sebuah perpisahan yang bermakna. Salah satu tradisi yang menjadi pusat cerita adalah honekami, kebiasaan lama menggigit sedikit tulang orang yang telah dikremasi sebagai bentuk kasih sayang serta keinginan untuk tetap dekat dengan mendiang. Melalui pemakaman ibunya, Kotaro mulai memahami bahwa upacara perpisahan bukan sekadar kewajiban atau rangkaian formalitas. Pemakaman menjadi kesempatan terakhir bagi keluarga untuk menyampaikan cinta, rasa terima kasih, dan hal-hal yang belum sempat mereka ucapkan. Pertemuannya dengan Shie akhirnya mengubah jalan hidup Kotaro. Tersentuh oleh cara Shie menghadapi kematian dan mendampingi keluarga yang berduka, Kotaro mulai tertarik mempelajari pekerjaan pengurus pemakaman. Episode pertama pun menjadi awal terbentuknya hubungan antara Shie, sang pengurus pemakaman berpengalaman, dan Kotaro yang kelak menjadi murid sekaligus rekannya.
Baca sinopsis lengkap →
Episode 2

Episode 2

Setelah mulai bekerja di rumah duka milik Sōsuke Shie, Kōtarō Soyogi—yang biasa dipanggil Bon—menyambut tugas pertamanya dengan penuh semangat. Bersama Shie, ia mendatangi rumah sakit untuk menangani pemakaman seorang perempuan dari keluarga Hirama. Namun, kedua putra almarhumah, Kazuki dan Yūji, justru menolak bantuan mereka. Mereka menganggap jasa rumah duka tidak lebih dari penipuan yang memanfaatkan keluarga berduka. Berbekal buku panduan pemakaman mandiri, keduanya bersikeras mengurus seluruh prosesi pemakaman ibu mereka sendiri tanpa bantuan tenaga profesional. Shie memilih mundur dan membiarkan keluarga tersebut menjalankan keputusannya. Akan tetapi, Bon melihat kecemasan pada Tomoyo, istri Yūji. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Bon diam-diam memberikan kartu nama rumah duka kepadanya sebagai jalan keluar apabila mereka membutuhkan pertolongan. Kekhawatiran Bon segera terbukti. Persiapan yang awalnya dianggap mudah perlahan berubah menjadi kekacauan karena keluarga Hirama tidak memahami cara menangani jenazah dan mengatur pemakaman dengan benar. Ketegangan di antara anggota keluarga pun semakin memuncak hingga mengancam hubungan mereka. Di tengah keadaan tersebut, terungkap pula ikatan mendalam antara Tomoyo dan mendiang ibu mertuanya. Pemakaman itu akhirnya bukan hanya menjadi perpisahan terakhir, tetapi juga kesempatan bagi keluarga Hirama untuk memahami perasaan almarhumah serta menyadari bahwa sebuah upacara perpisahan tidak semata-mata tentang biaya dan tata cara—melainkan tentang memberikan penghormatan sekaligus membantu mereka yang ditinggalkan menerima kehilangan.Setelah mulai bekerja di rumah duka milik Sōsuke Shie, Kōtarō Soyogi—yang biasa dipanggil Bon—menyambut tugas pertamanya dengan penuh semangat. Bersama Shie, ia mendatangi rumah sakit untuk menangani pemakaman seorang perempuan dari keluarga Hirama. Namun, kedua putra almarhumah, Kazuki dan Yūji, justru menolak bantuan mereka. Mereka menganggap jasa rumah duka tidak lebih dari penipuan yang memanfaatkan keluarga berduka. Berbekal buku panduan pemakaman mandiri, keduanya bersikeras mengurus seluruh prosesi pemakaman ibu mereka sendiri tanpa bantuan tenaga profesional. Shie memilih mundur dan membiarkan keluarga tersebut menjalankan keputusannya. Akan tetapi, Bon melihat kecemasan pada Tomoyo, istri Yūji. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Bon diam-diam memberikan kartu nama rumah duka kepadanya sebagai jalan keluar apabila mereka membutuhkan pertolongan. Kekhawatiran Bon segera terbukti. Persiapan yang awalnya dianggap mudah perlahan berubah menjadi kekacauan karena keluarga Hirama tidak memahami cara menangani jenazah dan mengatur pemakaman dengan benar. Ketegangan di antara anggota keluarga pun semakin memuncak hingga mengancam hubungan mereka. Di tengah keadaan tersebut, terungkap pula ikatan mendalam antara Tomoyo dan mendiang ibu mertuanya. Pemakaman itu akhirnya bukan hanya menjadi perpisahan terakhir, tetapi juga kesempatan bagi keluarga Hirama untuk memahami perasaan almarhumah serta menyadari bahwa sebuah upacara perpisahan tidak semata-mata tentang biaya dan tata cara—melainkan tentang memberikan penghormatan sekaligus membantu mereka yang ditinggalkan menerima kehilangan.
Baca sinopsis lengkap →
Episode 3

Episode 3

Tsugie Sōsuke dan asistennya, Soyogi Kōtarō atau Bon, menerima permintaan dari seorang detektif untuk mengurus pemakaman Tsutsumi Keiichirō, seorang lansia yang meninggal seorang diri di rumahnya. Satu-satunya keluarga yang tersisa adalah putranya, Tsutsumi Kento. Namun, hubungan ayah dan anak itu telah lama terputus setelah Keiichirō menyatakan tidak lagi mengakui Kento sebagai anaknya. Kini Kento hidup dengan mengandalkan bantuan sosial dan tidak mempunyai pekerjaan tetap. Alih-alih berduka, Kento justru terlihat senang karena mengira akan memperoleh warisan. Ia bahkan meminta agar jenazah ayahnya hanya dikremasi secara sederhana tanpa upacara pemakaman. Sikap tersebut membuat Bon sangat marah. Baginya, Kento seolah hanya memikirkan uang tanpa sedikit pun menghormati ayahnya. Bon kemudian menemani Kento mendatangi rumah tempat Keiichirō menghabiskan masa tuanya. Di sana mereka bertemu dengan Honmachi Kaori, seorang perempuan yang mengaku pernah bekerja sebagai pendamping lansia bagi Keiichirō. Dari Kaori, Kento mengetahui bahwa kehidupan ayahnya sebelum meninggal ternyata sangat berbeda dari yang selama ini ia bayangkan. Keiichirō dahulu merupakan seorang pengacara sukses. Namun, setelah kondisi ingatannya memburuk, kehidupannya perlahan runtuh dan harta yang diperkirakan akan diwariskan ternyata sudah tidak tersisa. Meskipun demikian, di antara barang-barang milik Keiichirō ditemukan sebuah album yang memperlihatkan bahwa sang ayah sebenarnya tidak pernah sepenuhnya melupakan putranya. Kento akhirnya menyadari bahwa peninggalan paling berharga dari ayahnya bukanlah uang, melainkan kepercayaan dan harapan agar dirinya mampu memperbaiki kehidupan. Kesadaran itu membuatnya memutuskan untuk mengadakan pemakaman yang layak serta mulai berusaha hidup mandiri. Episode ini menegaskan bahwa upacara pemakaman bukan hanya ditujukan bagi orang yang telah meninggal, tetapi juga menjadi kesempatan bagi mereka yang ditinggalkan untuk memahami perasaan yang selama ini tidak pernah tersampaikan. Kisah ini sekaligus memperlihatkan perubahan Kento—dari seseorang yang hanya mengharapkan warisan menjadi seorang anak yang akhirnya berani menata kembali hidupnya.
Baca sinopsis lengkap →
Episode 4

Episode 4

aro Kumazawa, seorang pegawai kantoran sukses berusia 40-an, mendatangi tempat usaha pemakaman milik Sosuke Shie bersama ibunya, Matsuko. Sang ibu menyampaikan permintaan yang sangat tidak biasa: ia ingin mengadakan pemakaman untuk kekasih putranya. Taro langsung menolak karena merasa kekasihnya masih ada. Sosuke dan Kotaro Soyogi yang penasaran kemudian mengikuti mereka ke rumah keluarga Kumazawa. Di sanalah mereka mengetahui bahwa sosok yang dianggap Taro sebagai kekasih bernama Ranko sebenarnya adalah sebuah boneka menyerupai manusia. Matsuko ingin segera berpisah dengan Ranko karena tunangan Taro yang sebenarnya akan datang ke rumah. Ia khawatir keberadaan boneka tersebut menghancurkan rencana pernikahan putranya. Setelah mendengar permohonannya, Sosuke dan Kotaro akhirnya bersedia membantu mengadakan upacara perpisahan yang tidak biasa. Namun, ketika persiapan dimulai, Taro melarang siapa pun menyentuh Ranko. Sikapnya memperlihatkan bahwa boneka tersebut bukan sekadar benda, melainkan tempatnya mencurahkan kesepian dan perasaan yang selama ini tidak mampu ia ungkapkan. Sosuke pun berusaha memahami alasan di balik keterikatan Taro, sekaligus membantu ibu dan anak itu menghadapi kenyataan serta menemukan cara untuk melangkah maju. Episode ini mengangkat tema kesepian, penerimaan, dan keberagaman cara seseorang memberikan makna pada hubungan
Baca sinopsis lengkap →
Episode 5

Episode 5

Kehidupan sebagai pasangan kerja dalam mengurus pemakaman mulai dijalani dengan lebih terbiasa oleh Sosuke dan Kotaro. Namun, kali ini mereka menghadapi kasus yang sangat berat. Keduanya mendapat tugas mengurus pemakaman seorang anak perempuan berusia sembilan tahun bernama Saki yang meninggal secara mendadak akibat kecelakaan lalu lintas. Kedua orang tua Saki, Yoko dan Makoto, sangat terpukul oleh kepergian putri mereka. Yoko bahkan kehilangan kendali atas emosinya dan menolak ketika Sosuke hendak menjalankan tugasnya terhadap jenazah Saki. Suasana duka membuat keluarga tersebut sulit menerima kenyataan bahwa anak mereka telah tiada. Dari Makoto, terungkap bahwa sebelum kecelakaan terjadi, Saki sedang melewati sebuah jalan yang sebenarnya sudah sering dilarang oleh kedua orang tuanya. Mendengar cerita tersebut, Kotaro merasa sangat iba kepada keluarga Saki hingga tidak mampu menahan tangis. Sosuke kemudian menegur Kotaro. Menurutnya, seorang petugas pemakaman harus mampu mengendalikan perasaan agar tetap dapat membantu keluarga yang sedang berduka. Teguran tersebut membuat Kotaro kembali mempertanyakan bagaimana seharusnya ia menjalankan pekerjaannya. Tidak lama kemudian, Kotaro bertemu dengan Mei, seorang teman Saki. Pertemuan tersebut membuka informasi baru mengenai Saki dan kejadian sebelum kecelakaan. Kotaro pun mulai merasa bahwa ada sesuatu yang belum diketahui oleh keluarga Saki tentang kematian putri mereka. Sambil tetap menjalankan tugas pemakaman, Kotaro berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Saki. Kasus ini membuatnya semakin menyadari bahwa pekerjaan seorang petugas pemakaman bukan hanya mengurus orang yang telah meninggal, tetapi juga membantu keluarga menemukan cara untuk menerima kepergian orang yang mereka cintai. Episode ini menjadi kisah emosional tentang kehilangan seorang anak, rasa bersalah orang tua, dan bagaimana sebuah keluarga perlahan berusaha menghadapi kenyataan setelah kehilangan yang datang secara tiba-tiba.
Baca sinopsis lengkap →
Episode 6

Episode 6

Sosuke Shie dan muridnya, Kotaro Bon, dipanggil oleh Detektif Yoshida—mantan atasan Shie ketika ia masih bekerja di kepolisian—ke sebuah unit apartemen. Setibanya di sana, Shie seketika tertegun dan syok saat melihat kondisi sesosok jenazah yang telah membusuk. Sementara itu, Bon yang merasa mual dan terguncang melihat kondisi jasad tersebut dirawat dan ditenangkan oleh Detektif Yoshida. Sembari menolong Bon, Detektif Yoshida mulai menceritakan masa lalu Shie: tentang sosok ayah Shie, Sogen Shie, yang mendedikasikan hidupnya sebagai pengelola rumah duka, serta tragedi sepuluh tahun silam terkait "Kasus Pembunuhan dan Mutilasi Siswi SMA" yang menjadi titik balik bagi Shie untuk mengundurkan diri dari kepolisian dan beralih profesi menjadi pengurus pemakaman. Yoshida kemudian mengungkapkan bahwa pelaku pembunuhan keji sepuluh tahun lalu tersebut meninggal dunia sebelum sempat ditangkap oleh pihak berwenang. Yang mengejutkan, jenazah membusuk yang tergeletak di apartemen itu ternyata adalah sang pelaku kriminal tersebut. Mengetahui bahwa sosok yang harus diurus pemakamannya adalah pembunuh berantai yang amat dibencinya, Shie dihadapkan pada perang batin yang berat. Meskipun batinnya tersiksa oleh kemarahan dan luka lama, Shie tetap memegang teguh etika dan profesionalitasnya sebagai pengurus pemakaman: bahwa upacara perpisahan terakhir diperuntukkan bagi keluarga yang ditinggalkan untuk melepas duka, bukan sebagai ajang penghakiman. Shie pun berusaha menyelesaikan proses pemakaman tersebut dengan penuh kesungguhan.
Baca sinopsis lengkap →