Episode 2
Kembali ke Detail

Sinopsis Episode 2

Tsui no Hito

Setelah mulai bekerja di rumah duka milik Sōsuke Shie, Kōtarō Soyogi—yang biasa dipanggil Bon—menyambut tugas pertamanya dengan penuh semangat. Bersama Shie, ia mendatangi rumah sakit untuk menangani pemakaman seorang perempuan dari keluarga Hirama. Namun, kedua putra almarhumah, Kazuki dan Yūji, justru menolak bantuan mereka. Mereka menganggap jasa rumah duka tidak lebih dari penipuan yang memanfaatkan keluarga berduka. Berbekal buku panduan pemakaman mandiri, keduanya bersikeras mengurus seluruh prosesi pemakaman ibu mereka sendiri tanpa bantuan tenaga profesional. Shie memilih mundur dan membiarkan keluarga tersebut menjalankan keputusannya. Akan tetapi, Bon melihat kecemasan pada Tomoyo, istri Yūji. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Bon diam-diam memberikan kartu nama rumah duka kepadanya sebagai jalan keluar apabila mereka membutuhkan pertolongan. Kekhawatiran Bon segera terbukti. Persiapan yang awalnya dianggap mudah perlahan berubah menjadi kekacauan karena keluarga Hirama tidak memahami cara menangani jenazah dan mengatur pemakaman dengan benar. Ketegangan di antara anggota keluarga pun semakin memuncak hingga mengancam hubungan mereka. Di tengah keadaan tersebut, terungkap pula ikatan mendalam antara Tomoyo dan mendiang ibu mertuanya. Pemakaman itu akhirnya bukan hanya menjadi perpisahan terakhir, tetapi juga kesempatan bagi keluarga Hirama untuk memahami perasaan almarhumah serta menyadari bahwa sebuah upacara perpisahan tidak semata-mata tentang biaya dan tata cara—melainkan tentang memberikan penghormatan sekaligus membantu mereka yang ditinggalkan menerima kehilangan.Setelah mulai bekerja di rumah duka milik Sōsuke Shie, Kōtarō Soyogi—yang biasa dipanggil Bon—menyambut tugas pertamanya dengan penuh semangat. Bersama Shie, ia mendatangi rumah sakit untuk menangani pemakaman seorang perempuan dari keluarga Hirama. Namun, kedua putra almarhumah, Kazuki dan Yūji, justru menolak bantuan mereka. Mereka menganggap jasa rumah duka tidak lebih dari penipuan yang memanfaatkan keluarga berduka. Berbekal buku panduan pemakaman mandiri, keduanya bersikeras mengurus seluruh prosesi pemakaman ibu mereka sendiri tanpa bantuan tenaga profesional. Shie memilih mundur dan membiarkan keluarga tersebut menjalankan keputusannya. Akan tetapi, Bon melihat kecemasan pada Tomoyo, istri Yūji. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Bon diam-diam memberikan kartu nama rumah duka kepadanya sebagai jalan keluar apabila mereka membutuhkan pertolongan. Kekhawatiran Bon segera terbukti. Persiapan yang awalnya dianggap mudah perlahan berubah menjadi kekacauan karena keluarga Hirama tidak memahami cara menangani jenazah dan mengatur pemakaman dengan benar. Ketegangan di antara anggota keluarga pun semakin memuncak hingga mengancam hubungan mereka. Di tengah keadaan tersebut, terungkap pula ikatan mendalam antara Tomoyo dan mendiang ibu mertuanya. Pemakaman itu akhirnya bukan hanya menjadi perpisahan terakhir, tetapi juga kesempatan bagi keluarga Hirama untuk memahami perasaan almarhumah serta menyadari bahwa sebuah upacara perpisahan tidak semata-mata tentang biaya dan tata cara—melainkan tentang memberikan penghormatan sekaligus membantu mereka yang ditinggalkan menerima kehilangan.