Episode 3
Kembali ke Detail

Sinopsis Episode 3

Tsui no Hito

Tsugie Sōsuke dan asistennya, Soyogi Kōtarō atau Bon, menerima permintaan dari seorang detektif untuk mengurus pemakaman Tsutsumi Keiichirō, seorang lansia yang meninggal seorang diri di rumahnya. Satu-satunya keluarga yang tersisa adalah putranya, Tsutsumi Kento. Namun, hubungan ayah dan anak itu telah lama terputus setelah Keiichirō menyatakan tidak lagi mengakui Kento sebagai anaknya. Kini Kento hidup dengan mengandalkan bantuan sosial dan tidak mempunyai pekerjaan tetap. Alih-alih berduka, Kento justru terlihat senang karena mengira akan memperoleh warisan. Ia bahkan meminta agar jenazah ayahnya hanya dikremasi secara sederhana tanpa upacara pemakaman. Sikap tersebut membuat Bon sangat marah. Baginya, Kento seolah hanya memikirkan uang tanpa sedikit pun menghormati ayahnya. Bon kemudian menemani Kento mendatangi rumah tempat Keiichirō menghabiskan masa tuanya. Di sana mereka bertemu dengan Honmachi Kaori, seorang perempuan yang mengaku pernah bekerja sebagai pendamping lansia bagi Keiichirō. Dari Kaori, Kento mengetahui bahwa kehidupan ayahnya sebelum meninggal ternyata sangat berbeda dari yang selama ini ia bayangkan. Keiichirō dahulu merupakan seorang pengacara sukses. Namun, setelah kondisi ingatannya memburuk, kehidupannya perlahan runtuh dan harta yang diperkirakan akan diwariskan ternyata sudah tidak tersisa. Meskipun demikian, di antara barang-barang milik Keiichirō ditemukan sebuah album yang memperlihatkan bahwa sang ayah sebenarnya tidak pernah sepenuhnya melupakan putranya. Kento akhirnya menyadari bahwa peninggalan paling berharga dari ayahnya bukanlah uang, melainkan kepercayaan dan harapan agar dirinya mampu memperbaiki kehidupan. Kesadaran itu membuatnya memutuskan untuk mengadakan pemakaman yang layak serta mulai berusaha hidup mandiri. Episode ini menegaskan bahwa upacara pemakaman bukan hanya ditujukan bagi orang yang telah meninggal, tetapi juga menjadi kesempatan bagi mereka yang ditinggalkan untuk memahami perasaan yang selama ini tidak pernah tersampaikan. Kisah ini sekaligus memperlihatkan perubahan Kento—dari seseorang yang hanya mengharapkan warisan menjadi seorang anak yang akhirnya berani menata kembali hidupnya.