Episode 5
Kembali ke Detail

Sinopsis Episode 5

Daikuko: GATE24

Amita Barad, seorang mahasiswi berusia 22 tahun asal Republik Chatwan, tiba di Jepang dan menjalani pemeriksaan imigrasi yang ditangani oleh Keiichiro Hayami dan petugas bea cukai Atsushi Matsuyama. Dalam pemeriksaan tersebut, Matsuyama menyita kalung milik Amita yang berisi tanah karena tidak memenuhi ketentuan untuk dibawa masuk. Namun, keesokan harinya Amita ditemukan telah tewas. Detektif Kozo Nishida dari Divisi Investigasi Kepolisian Metropolitan kemudian mendatangi markas GATE24 untuk meminta keterangan. Kecurigaan langsung mengarah kepada Matsuyama setelah polisi menemukan foto dirinya tersimpan di ponsel Amita. Matsuyama bersikeras bahwa mereka baru pertama kali bertemu ketika pemeriksaan berlangsung. Situasinya semakin sulit ketika rekaman kamera pengawas memperlihatkan Matsuyama berbicara dengan Amita di sebuah halte dekat bandara. Ia juga diketahui berada di jalur bus yang berbeda dari rute perjalanan pulangnya. Keterangan Matsuyama pun mulai diragukan dan pemeriksaan polisi berubah menjadi interogasi serius. Saat Mori Machi memeriksa kembali rekaman kedatangan Amita, ia menemukan gerak-gerik mencurigakan yang memunculkan dugaan bahwa Matsuyama telah membantu perempuan itu melewati pemeriksaan dan menyelundupkan sesuatu. Kecurigaan semakin kuat setelah Endo Nozomi mengaku pernah melihat Matsuyama menyerahkan uang kepada seorang pria misterius. Meski seluruh bukti seolah mengarah kepada Matsuyama, Machi dan Hayami belum mau mengambil kesimpulan. Bersama anggota GATE24 lainnya, mereka diam-diam membuntuti Matsuyama untuk mencari tahu alasan sebenarnya di balik pertemuannya dengan Amita dan transaksi rahasianya. Penyelidikan tersebut membawa mereka pada hubungan antara barang bawaan yang hilang, sebuah aksi penyelundupan, dan kasus yang menimpa Amita. Episode ini menempatkan Matsuyama dalam krisis terbesar sepanjang kariernya. Ia tidak hanya harus membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, tetapi juga menghadapi rasa bersalah karena seseorang yang pernah diloloskannya masuk ke Jepang justru menjadi korban kejahatan.